Kamis, 21 Agustus 2014

Balasan Untuk Jatuh Cinta Diam-Diam


Diam, katanya emas. Jika memang begitu, harusnya orang yang jatuh cinta diam-diam praktis menjadi orang terkaya di dunia. Aku tahu! Mengapa jatuh cinta diam-diam tak kunjung membuat pelakunya kaya? Karena ‘emas’ yang di dapat karena diamnya habis digerogoti rasa penasaran dan kelelahan menebak-nebak.
Sesungguhnya benak orang yang jatuh cinta diam-diam adalah benak yang paling cerewet. Dalam pikirannya, orang yang jatuh cinta diam-diam akan terus berceloteh, bertanya, dan lagi, menebak. Mungkin terlihat tak ada lelahnya. Tetapi sebenarnya tak ada yang pernah menginginkan itu, hanya saja tak ada yang kuasa ketika itu menimpa dirinya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus saja menghiasi pikiran. Aku, juga pernah jatuh cinta diam-diam. Kurang atau lebihnya, aku selalu bertanya.
“Apakah dia tahu kalau aku sering memandanginya bahkan ketika dia melakukan aktivitas sekecil apa pun?”
“Apa dia pernah melihatku, menyadari keberadaanku? Atau aku begitu tak nyata?”
“Pernahkah sedikit saja terlintas dalam pikirannya tentang aku?”
“Mengapa dia mengenakan baju dengan warna seperti warna kesukaanku?”
“Mengapa dia menyanyikan lagu favoritku di lorong kelas tadi?”
“Ah, bagaimana bisa dia bercerita ke temannya baru saja menonton film yang sudah berkali-kali aku tonton karena aku sungguh menyukainya?”
“Apakah dia punya perasaan yang sama denganku?”
Aku sering merenung, khususnya di malam hari. Tak mengerti mengapa hubungan antara satu manusia dengan manusia lain bisa begitu rumit, atau dibuat rumit oleh manusia itu sendiri? Entah.
Setahuku, komunikasi bisa meluruskan semuanya, menghilangkan penasaran, menghentikan kamu menebak-nebak. Bicara, dan kamu akan berhenti untuk lelah.
Karena orang yang jatuh cinta diam-diam, cintanya juga bisa berbalas. Balasan berupa penerimaan diam-diam, penolakan diam-diam, atau mungkin diabaikan diam-diam.

Miliki 6 Hal Ini Pertanda Anda Sudah Siap Pacaran


Banyak orang yang masih berstatus single berharap bisa bertemu dengan orang yang mencintai dan dicintainya, lalu menjalin hubungan pacaran. Namun tak sedikit yang menyadari bahwa dalam pacaran pun banyak tantangan yang harus dihadapi. Nah, bila Anda adalah single dan mengaku siap untuk pacaran, Anda patut mengecek 6 hal ini dalam diri Anda.
Punya Prinsip
Seseorang yang punya prinsip adalah orang-orang yang terbilang matang secara pemikiran. Orang-orang seperti ini akan cenderung mencari seseorang yang kepadanya ia dapat berbagi banyak hal tentang masa depan dan tujuan-tujuan hidup yang lebih baik.
Pulih dari masa lalu
Pelantun lagu let it go, Idian Menzel adalah satu dari sekian banyak wanita single yang mengaku masih belum siap untuk kembali pacaran setelah menjadi seorang ibu tunggal setelah berpisah dari suaminya Taye Diggs, seorang aktor. Dirinya bahkan mengaku masih belum lepas dari pahitnya perceraian ayah ibunya. Bila bayangan masa lalu masih terus membekas, maka segeralah melangkah membuka lembaran baru, miliki hubungan baru tanpa ada sisa di masa lalu.
Menjadi single bahagia
Bila waktu-waktu kesendirian Anda dimanfaatkan dengan melakukan beragam aktifitas untuk meningkatkan produktifitas diri, maka Anda adalah single yang bahagia dan tetap merasa nyaman. Sehingga sebelum menjalani hubungan dengan seseorang, Anda sudah menunjukkan diri Anda bahwa menjadi single bukan menjadi persoalan.
Sudah matang dan bertanggung jawab
Saat Anda sudah bertanggung jawab terhadap diri sendiri, maka saat pacaran pun Anda sudah dipercayakan untuk menjaga diri, baik bertanggung jawab untuk kesehatan, hati atau masa depan. Rasa percaya dan tanggung jawab menjadi salah satu pondasi penting dalam menjalin suatu hubungan.
Siap menjadi penengah dan mengalah
Setiap hubungan tentunya menghadapi perbedaan-perbedaan yang menimbulkan konflik di suatu ketika. Nah, sebagai pasangan Anda sepatutnya menjadi pribadi yang siap untuk mengalah dan mencoba untuk meredam konflik yang memicu pasangan Anda untuk marah atau kesal kepada Anda.
Memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan
Setuju atau tidak, pacaran adalah jenjang dimana dua pribadi dipersiapkan untuk saling mengenal hingga keduanya siap melangkah menuju pernikahan suci. Sehingga untuk menemukan pasangan yang sepadan dan pasangan yang dipilihkan Tuhan, maka mintalah dari Tuhan lewat hubungan yang baik dengan-Nya. Ketika Anda sudah mencintai Tuhan lebih dari mencintai manusia, maka percayalah Anda akan dipertemukan dengan pribadi yang dengannya Anda dapat berbagi tentang kasih Tuhan.

7 Cara Lepas dari Hubungan yang Diwarnai Kekerasan


Cinta katanya berjuta rasanya, tapi bagaimana kalau saking cintanya, seseorang bisa buta dan cemburu berlebihan? Pada akhirnya, ada hal-hal negatif yang dia lakukan. Jika saat ini hubungan kamu diwarnai dengan posesif, cemburu berlebihan dari pasangan, emosi sampai memukul, mengancam, merendahkan dan menyalahkan, serta membuatmu jauh dari lingkungan maka cobalah melepaskan diri dari hubungan tersebut. (Baca juga : Tanda-Tanda Abusive Relationship) Ini caranya :
Sadari dan Segera Ambil Tindakan
Sadarilah bahwa selama ini kamu menjalani sebuah hubungan yang buruk dan tidak sepantasnya kamu lanjutkan. (Baca juga : Akibat Kekerasan Seksual, Seseorang Bisa Jadi Hiperseks) Kamu harus segera bangkit dan melakukan sebuah tindakan agar bisa keluar dari hubungan yang sama sekali tidak bisa membantumu menjadi lebih baik. Mungkin ini hal tersulit yang harus kamu lakukan, karena kamu cinta padanya, tapi nyawamu dan perasaanmu jauh lebih berharga buat dirimu sendiri. Karena itu melekat seumur hidupmu. Kamu juga tidak perlu takut dengan pacar kamu, sayangilah dirimu sendiri.
Kenali Hal-hal yang Merupakan Kekerasan dalam Hubungan
Semakin lama hubungan berjalan, kebiasaan buruk makin terlihat jelas dan bahkan bisa melakukan tindakan kekerasan pada kamu. Sadari hal-hal apa saja yang sudah dia lakukan selama ini, yang telah membuatmu berada di bawah rasa takut dan tidak aman, baik secara verbal maupun tindakan. Seharusnya, pacar merupakan seseorang yang bisa memberikan rasa menghargai dan rasa aman yang tak bisa diberikan orang lain. Kalau yang kamu rasakan ketakutan, untuk apa dipertahankan bukan?
Percayalah, Kamu Tidak Bersalah
Meski pacarmu bilang semuanya gara-gara kamu, percayalah bahwa kamu tidak bersalah. Tindakan / reaksi setiap orang ditentukan oleh orang itu sendiri, bukan orang lain. Kamu tidak harus bertanggung jawab untuk semua yang dilakukan oleh pacar. Sekali lagi, sayangi diri kamu sendiri. Kamu tidak pantas diperlakukan kasar oleh siapapun. Orangtua dan sahabat-sahabatmu yang sayang pun tak akan pernah rela melihat kamu diperlakukan dengan seenaknya oleh siapapun juga.
Dia Takkan Bisa Berubah
Berkali-kali dia berjanji untuk tidak mengulanginya, berkali-kali pula dia akan mengingkarinya. Itu karena dia belum bisa "bertobat" dan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Jika pacaran saja dia sudah memperlakukanmu dengan kasar, bagaimana nanti jika sudah menikah? Kalau memang kamu berniat mempertahankan hubunganmu dengan si dia, ajak dia untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional yang paham mengenai hal ini.
Pahami Situasi yang Kamu Alami
Kamu harus paham betul dengan bobot permasalahan yang sedang kamu hadapi. Bagaimana hal tersebut mempengaruhi masa depan kamu, kepribadian kamu, dan hal-hal lainnya tentang hubungan. Dengan begitu, kamu jadi tahu solusi yang terbaik untuk mengeluarkan kamu dari permasalahan serius ini.
Persiapkan Segala Sesuatunya
Kalau hubunganmu masih baru, mungkin akan lebih mudah untuk putus dengannya, dengan asumsi bahwa ikatan kalian belum begitu kuat. Tapi tidak mudah bagi yang sudah lama menjalani hubungan tersebut. Tetapkan hati untuk tidak kembali pada hubungan yang seperti ini, karena hanya menimbulkan kerugian. Sadari bahwa Anda bisa hidup tanpanya, dan Anda memang bisa hidup tanpanya. Dunia tidak akan runtuh, sekalipun Anda masih cinta padanya.
Buat Rencana ke Depan
Jangan terkubur dalam kesedihan, saatnya kamu mulai lagi. Buatlah rencana ke depan, apa yang harus Anda lakukan selanjutnya. Bagaimana agar kisah lama tak terulang kembali. Lakukan hal-hal positif di dalam hidupmu.

Konsep Berpacaran Menurut Alkitab


Konsep Berpacaran Menurut Alkitab - Berpacaran adalah konsep masyarakat modern, artinya baru beberapa puluh tahun inilah kita mengenal konsep tersebut. Di masa lampau hal ini tidak di kenal karena perkawinan biasanya diatur oleh pihak keluarga atau orang tua kedua belah pihak. Mengapa demikian?

Karena memang perkawinan bukan cuma masalah pribadi kedua orang yang terlibat saja, melainkan mempunyai dampak yang luas kepada keluarga dan seluruh masyarakat sekitarnya. Dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi membawa suatu perubahan besar bagi generasi muda, mereka belajar bersama dan bergaul bersama dan menuju kedewasaan bersama. Dalam pergaulan sering kali berkembang pada hubungan-hubungan yang khusus yang menjurus ke pada persahabatan atau kepada pacaran.

Arti dari pacaran

Pacaran adalah dampak dari pergaulan sehingga munculah hubungan (muda-mudi), dua orang yang tidak sejenis, berdasarkan rasa cinta. Jadi berpacaran adalah suatu proses di mana seorang laki-laki dan perempuan menjajaki kemungkinan adanya kesepadanan di antara mereka berdua yang dapat dilanjutkan ke dalam perkawinan. Jadi apabila kita melihat pengertian di atas, maka berpacaran itu bukanlah sekedar bersenang-senang melampiaskan nafsu, mengisi kekosongan, tetapi di dalam berpacaran itu ada suatu keseriusan dan kesungguhan untuk menjalin hubungan kedua belah pihak, yang menuju kepada suatu pertunangan. Namun pada umumnya orang salah menginterpretasikan persepsi pacaran yang sesungguhnya yaitu dengan cara menyalah gunakan praktek berpacaran itu sendiri, sehingga menimbulkan dampak yang negatif dan tidak jarang kedua belah pihak saling merugikan, misalnya:
  • Ganti-ganti pacar
  • Saling mendewakan
  • Melampiaskan nafsu seksual yang tidak wajar dan belum saatnya di lakukan pada tahap itu.

Sayangnya banyak orang terburu-buru dalam proses ini, sehingga masih terlalu muda, sudah ada remaja yang jatuh cinta dan bahkan merasa yakin bahwa orang yang diidamkan itu pasti merupakan pasangan hidupnya, ada juga pada masa pacaran orang sudah memanggil papi dan mami. Padahal belum tentu mereka akan menjadi suami istri. Apa yang terjadi apabila ternyata hubungan tersebut putus! Yang terjadi adalah kepahitan dan kekecewaan yang sangat mendalam karena seolah-olah seluruh harapan sudah ditumpahkan kepada sang pacar. Pacaran berbeda dengan persahabatan, pertunangan, dan pernikahan karena pacaran adalah hubungan dua orang yang tidak sejenis berdasarkan cinta. Persahabatan berlangsung antara dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan yang lebih baik. Pertunangan adalah suatu masa yang lebih mendalam dari pada masa berpacaran. Dalam masa ini, suatu pasangan sudah tiba pada tahap perencanaan yang lebih matang untuk memasuki kehidupan keluarga. Pernikahan adalah bersatunya dua lawan jenis menjadi satu daging dan menjadi satu lembaga yaitu Keluarga.

Pacaran menurut Alkitab

Telah dikatakan dalam Bab I bahwa pacaran itu adalah konsep masyarakat modern, dan secara tertulis Alkitab tidak pernah menyinggung soal kata pacaran ini, tetapi ada kisah-kisah dalam Alkitab yang menceritakan kisah hidup seorang pemuda yang begitu sangat mencintai seorang wanita, namanya Yakub (Kej. 29:18). Kisah ini memang tidak dicatat secara terperinci bagaimana sikap kedua insan ini, tetapi yang jelas Yakub mendapatkan Rahel, setelah ia bekerja dengan penuh kesungguhan selama tujuh tahun tujuh hari, tetapi ia harus menambah selama tujuh tahun lagi. Ini membutuhkan suatu ketabahan/kesabaran yang luar biasa. Dalam perjanjian baru mengenai pacaran ini hanya tersirat yaitu bagaimana sikap seorang Kristen misalnya (Roma 12:20) dimana sistim pacaran dunia tidak dapat dipakai oleh seorang Kristen ketika ia ada pada masa-masa pacaran. Dipihak lain Paulus menasihatkan anak didiknya Timotius yang masih muda itu supaya bisa jadi teladan dari hal percaya, perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian agar orang tidak melihat atau menganggap rendah Timotius masih muda itu. Melihat hal-hal diatas, maka mari kita melihat bagaimana cara anak Tuhan berpacaran menurut konsep Alkitabiah:

Pacaran itu harus didasari Kasih Allah.

Apa tujuan kita pacaran? Apakah hanya mengisi kekosongan dalam hidup kita, keinginan dalam hidup kita, keinginan mata atau hal-hal yang menyangkut kepada kepuasan diri sendiri, dimana yang menjadi pusat perhatian hanya pada diri sendiri. Sehingga pada masa pacaran timbul istilah bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua, dan tai gigipun akan rasa coklat...dan sebagainya,....dsb.

Orang dunia mengatakan bahwa asmara itu adalah cinta dan itu sangat dibutuhkan bagi orang yang berada pada masa pacaran. Menurut kamus, asmara itu mempunyai dua pengertian yaitu:

Cinta Kasih

Cinta birahi, dimana seorang anak muda digoda dan tergila-gila pada pasangannya.

Pada dasarnya asmara itu bukan cinta, karena asmara itu naksir/keinginan yang semua ini berpusat pada diri sendiri. Cinta kasih atau Kasih itu menurut Alkitab bisa kita baca dalam I Korintus 13:4-7. Cinta yang benar tidak dapat dijadikan topeng untuk satu maksud dan motivasi tertentu, cinta yang benar tidak mementingkan diri sendiri, melainkan mengutamakan orang lain. Jadi asmara itu tidak sama dengan cinta sebab dampak dari asmara itu adalah kebalikan dari makna cinta yang sebenarnya. Yes. 13:16, 18, ini merupakan ucapan Tuhan kepada Babil, di mana anak-anak muda tidak perduli lagi terhadap Kudusnya pernikahan itu. Sehingga dampaknya kebebasan seks, adanya pengguguran kandungan dsb.

Asmara itu hanya berpusat pada diri sendiri dan biasanya diiringi dengan nafsu (seks) dan itulah adalah dosa. Mat. 5:28, menginginkannya saja sudah berzina. Simpati itu bisa saja tetapi naksir itu tidak boleh. Jadi pacaran yang benar harus berorentasi pada kasih akan Allah, dimana kepentingan Allah yang harus diutamakan atau diprioritaskan dalam hubungan pacaran itu. Kita harus menunjukkan gaya hidup yang disetujui oleh Allah, bukan berpusat pada diri sendiri. Kasih akan Allah ini membuat kita mengikuti atuaran main yang Allah berikan, diantaranya :II Korintus 6:14 ....

Meskipun pada tingkat tubuh dan jiwa pasangan yang tidak seimbang itu dapat bersatu, namun dalam tingkat roh terjadi kekosongan. Pasangan itu tidak dapat berdoa bersama-sama dan tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah yang menggoncangkan hubungan mereka dengan Tuhan. Akibat dari hal ini kepentingan pribadi akan didahulukan dari kepentingan Allah.

Jika berpacaran yang benar harus didasari kasih akan Allah, maka dalam hal berpacaran kita harus berani bertanya kepada Tuhan, mengapa demikian? Karena pacaran itu merupakan suatu persiapan kita masuk pada pertunangan dan pernikahan. Jika pacaran itu didasari atas diri kita sendiri, itu seringkali membawa hasil kekecewaan, misalnya ketika kita mengambil sikap memutuskan dia; syukur bila yang kita putuskan itu tidak kecewa, tetapi apabila ia merasa kecewa/sakit hati maka itu berarti kita telah melakukan pembunuhan dan bisa jadi pasangan kita itu akan meninggalkan Tuhan bahkan menjadi murtad. Ini berarti kita berdosa kepada Tuhan. Percayailah Allah dalam segala hal karena Ia itu Maha Tahu yang tentunya tahu apa yang menjadi kerinduan /kebutuhan kita bahkan Ia menjanjikan masa depan yang penuh harapan, lihatlah Yeremia 29:11; Amsal 23:18. Jadi pacaran yang benar harus di dasari dengan Kasih Allah sehingga orientasi pergaulan itu hanya ada di dalam tubuh Kristus. Bukan berdua-berdua, karena akibat dari berdua-duaan itu 'nenek bilang...berbahaya'.

Harus mengikuti standar moral Alkitab.

Apakah dalam berpacaran dibenarkan perpegangan tangan, berciuman, bermesraan dsb? Telah dikatakan tadi dalam Roma 12:12 bahwa jangan kita menjadi serupa dengan dunia atau dengan kata lain jangan berpacaran ala orang dunia. Berpacaran cara duniawi berbeda dengan berpacaran yang Alkitab/ berpacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Perbedaannya yaitu:

Pacaran duniawi bertujuan mencari pengalaman dan kenikmatan dalam hubungan cinta dengan pertimbangan : mungkin besok sudah mencari pacar baru lagi. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat hubungan pacaran sebagai kemungkinan titik tolak yang menuju lorong rumah Nikah.

Pacaran duniawi memanfaatkan tubuh pasangannya untuk memuaskan perasaan seksual, mula-mula pada tingkat ciuman dan pelukan, namun kemudian gampang menjurus kepada tingkat hubungan seksual. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat Tubuh pasanganya sebagai rumah kediaman Roh Kudus (I Korintus 3;16) yang dikagumi dan di hargai sebagai ciptaan Allah yang nanti di miliki dalam rumah nikah, dimana mereka saling menerima satu dengan yang lain dari tangan Tuhan.

Pacaran duniawi, berorientasi masa kini (sekarang)

Oleh karena itu sering mengakibatkan luka-luka yang dalam, bila terjadi perpisahan. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan berorientasi pada masa depan (hari esok). Mereka membatasi segala hubungan intim jasmani dengan kesadaran bahwa pacaran ini belum mengikat. Masing-masing harus dapat melepaskan satu dengan yang lainnya (bila terjadi ketidak cocokan) tanpa saling melukai.

Standar Alkitab tentang pacaran yaitu I Tesalonika 4:3 yaitu Allah berkehendak supaya kita ada dalam kekudusan. Jangan merusak Bait Allah yang di dalamnya Roh Allah bertahta. Mat. 5:27-28; Kid. 2:7; 3:5 ;8:4. Efesus 4:27 mengatakan janganlah beri kesempatan pada iblis sebab dengan kita membuka celah berarti kita telah memberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah kehendaki. Dosa seks akan membawa kita perlahan-lahan masuk pada dunia free seks.
Hubungan badani (senggama) antara lawan jenis itu tidak akan berlangsung ketika dua pasangan itu baru mengenal. Ciuman dan pelukan antara seorang pemuda dan pemudi merupakan kontak fisik untuk mendapatkan seksuil dan kenikmatan. Ada empat tingkat intensitas hubungan fisik, di mulai dari yang paling lemah sampai yang paling kuat. Keempat tingkat tersebut ialah:
  • Berpegangan tangan.
  • Saling memeluk, tetapi tangan masih diluar baju.
  • Berciuman
  • Saling membelai dengan tangan di dalam baju.
Ransangan seksual yang terus menerus akan menciptakan dorongan biologis yang terus memuncak. Ketika dorongan seks menggebu-gebu, kedewasaan, kecerdasan, dan pendirian-pendirian serta iman seringkali tidak berfungsi, atau tersingkir untuk sementara. Banyak pasangan muda berkata bahwa ciuman itu normal, karenan ciuman itu adalah kenikmatan pada masa pacaran dan dianggap akan lebih mengikat tali kasih antara dua belah pihak. Itu adalah pendapat yang sangat keliru karena Alkitab memberikan penjelasan bahwa dampak dari hubungan itu akan membuat seorang merasa bersalah bahkan bisa merubah sayang itu menjadi benci.
Contoh : II Samuel 13:1-15. Cerita ini mengisahkan anak-anak Daud yaitu Amnon dan Tamar di mana Amnon begitu mencintai Tamar, sampai-sampai ia jatuh sakit karena keinginannya untuk memiliki Tamar. Tetapi pada ayat 15 menceritakan setelah mereka jatuh pada dosa seks, timbullah suatu kebencian dalam diri Amnon terhadap Tamar, ini berarti bercumbuan bukan merupakan jaminan akan cinta sejati.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef. 4:17-21) supaya anak Tuhan jangan jatuh pada hal berciuman dan lain-lain yang merangsang dalam masa berpacaran karena itu bertentangan dengan Alkitab. Dengan demikian orang-orang Kristen harus menghindari percumbuan dalam masa berpacaran, sebab tindakan tersebut merupakan penyerahan diri kepada seksualitas, membiarkan hawa nafsu berperan, yang nantinya akan membawa kepada kecemaran dan pelanggaran kehendak Allah. Lebih jauh lagi pengajaran-pengajaran moral Paulus kepada anak muda Kristen di mana saja. I Timotius 5:22 bagian akhir "jagalah kemurnian dirimu". Yesaya 5:20 celakalah yang mengatakan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat. Wahyu 18:2-3 keindahan tubuh telah dipakai setan untuk menghancurkan nilai-nilai iman Kristen. Akhirnya kita akan melihat hubungan seksual muda-mudi sebelum pernikahan dalam konteks Alkitabiah yaitu:
  1. Dalam perjanjian Lama Ulangan 22:13-30 Ungkapan ini menunjukkan betapa tingginya nilai keperawanan, Amsal 7:1327.
  2. Dalam Perjanjian Baru I Korintus 6:10 Hubungan seksual diluar pernikahan adalah percabulan. I Korintus 6:13,18,19 Jauhkan dirimu dari percabulan, tubuh kita bukan untuk percabulan.
Hubungan seksual diluar nikah bukan hanya masalah pribadi melainkan mengikutsertakan Tuhan, I Tesalonika 4:3-5,8. Jadi berpacaran itu mempunyai batas-batas tersendiri, karena pacaran itu tidak sama dengan pertunangan dan perkawinan. Artinya sang pacar itu bukanlah suami atau isteri sehingga tidak boleh diperlakukan demikian. Oleh karena itu ada baiknya apabila orang berpacaran pergi bersama-sama dengan teman-teman atau anggota keluarga yang lain sehingga selalu ada rem yang mampu mengendalikan semua tingkah laku.

Kesimpulan

Agar pemuda-pemudi di dalam Kristus tidak berdiri dengan menangis dan menyesal pada puing-puing ketentuan yang mereka sudah setujui bersama pada awal hubungan mereka, haruslah mereka berorientasi dalam segala pergaulan mereka kepada ke empat nasihat Firman Tuhan yaitu:
  • Berdoalah senantiasa, I Tes. 5:17; khususnya pada waktu pacaran Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu, Ef. 5:20; apakah semua pengalaman pada waktu berpacaran menimbulkan ucapan syukur?
  • Lakukanlah segala sesuatu berdasarkan iman, Roma 14:23 setiap langkah dalam hubungan pacaran mempunyai dimensi ke atas yaitu tanggung jawab kepada Tuhan.
  • Pandanglah tubuhmu dan tubuhnya adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu. Kamu bukanlah milik kamu sendiri, kamu sudah dibeli! Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu ( I Korintus 6:19-20)
  • Dalam Keagungan-Nya...

Selasa, 19 Agustus 2014

Valor Moris

Moris ne’e hanesan circulo nebe’e sempre hadulas haleu ita.
Dalaruma ema ida bele iha okos liu wainhira mundu hadulas an ba kraik.
Ema seluk bele hakletek sae ba leten nafatin la hare’e ba nia tutun.
No ema balun mos dalaruma la iha nia fatin hodi la bok an.
Iha situasaun saida deit no iha nebe’e deit ita horik ba, ita dalaruma hasoru buat balun, perguntas balun, no mos oinsa mak ita valoriza ita nia moris.

Wainhira perguntas ne’e mosu dalaruma lori ita ba iha ita nia konsiensia rasik katak saida mak ita halao ona hodi valoriza ita nia moris?
Medida saida mak ita uza hodi bele hatene katak ita valoriza ona ita nia moris.

Ba hau, atu valorize ita nia moris mak liu husi hadia an.
Bainhira ita hadia ita nia an motiva atu bele sai diak liu.

Ezemplu konkreta ida, ita mane sira sempre preokupadu oituan atu hadia gravata nebe’e karik seidauk los. Ba inan feton sira dalaruma preokupa los ho ssan sira atu uza hodi pinta an karik seidauk diak.
Iha ispelhu oin ita sempre hakarak hadia ita an atu bele sai bonito no bonita, wainhira buat ruma sidauk diak ita buka atu hadia iha ispelhu nia oin.

Entaun atu koalia lolos deit katak, atu valoriza ita nia an ne’e fasil hanesan wainhira ita hamrik iha ispelhu nia oin.
Hare’e ba frakeza nebe’e ita iha hodi buka atu hadia husi loron ba loron.
La presiza tauk atu rekonhese ita nia sala ba ita nia an rasik.
So maromak deit ho ita nia an rasik mak bele hatene sala sira nebe’e iha iha ita an rasik.

Durante ita sei iha konsiensia tomak nebe’e as no forte atu kontinua hadia ita nia an rasik, entaun momentu ida ne’e mak ita bele valoriza ita nia an rasik.

Falhansu nebe’e ita nunka espera

Dala barak buat nebe’e ita planeia nunka mais atu realiza ho diak, dala ruma iha kestaun fundamental balun nebe’e la ses husi planu nebe’e ikus mai falha no labele realiza ho diak.
1. Ita la hatene lolos potensia ita nian
Obriga an atu sai buat nebe’e ita hakarak ne los, tamba husi ne’e iha esforsu nebe’e klaru atu bele realize. Maibe iha ema barak nebe’e la susesu iha area nebe’e sira hakarak.
Labele hanoin katak ita bele susesu hanesan ema seluk.
Ida ne’e mak kestaun importante nebe’e ema barak tenki hanoin, naturalmente ita labele susesu hanesan ema seluk tamba ita nia tempu nebe’e lahanesan ho ema seluk.
Ita labele sukat ema seluk nia susesu ho ita an, karik ne’e iha lalaok moris nebe’e hanesan, ne’e iha tamba ita hetan inspirasaun husi neba no esforsu atu buka hatene buat nebe’e hanesan husi ema seluk ho ita nia an rasik.
Tamba ne’e tansa mak ita preokupadu liu hodi hanoin atu hanesan ho ema seluk, kuandu ita rasik laiha potensia nebe’e hanesan ho ema seluk.

2. Lais liu atu dada an

La susesu iha fatin barak, durante nia la para atu bele to’o nia objetivu, entaun liafuan la susesu ne’e sei la akontese. Buat nebe’e iha mak prosesu atu buka hatene.
Entaun ita ma tenki husu ba ita nia an rasik, karik ita mak dada an sedu ou ita sei iha prosesu atu to’o iha objetivu nebe’e ita hakarak.

3. Iha buat balun nebe’e diak liu hein hela ita
Ita labele lakon konfiansa wainhira ema seluk la valoriza ita nia esforsu ho diak. Ita tenki pasiensia hodi hein oportunidade iha loron ikus.
Pasiensia hanorin mai ita katak oportunidade loron ikus nian sei diak liu, atu lori ita sai husi hanoin negative sira.

4. Foti an, ikus mai halo ita monu
Foti an, kestaun ida ne’e mak sempre halo ita ema monu. Dalaruma la susesu hanesan chamada ida mai ita.
Dalaruma ita konsidera ita nia an rasik katak ita bele halo buat sira ne’e hotu ho diak, no ikus mai ita konsidera ita nia an rasik katak ita diak liu ema seluk. Maibe ita la hatene katak ida ne’e hanesan dalan ida nebe’e lori ita atu lakohi rona ema seluk nia hanoin no ikus mai ita monu iha situasaun ida nebe’e ema dehan foti an no senti katak ita mak diak liu ema seluk.
Se akontese nune’e ona ita labele hakfodak enkuantu ikus mai ema ida-idak hases an husi ita no lakon konfiansa ba ita. No liafuan la susesu ita tenki simu ho laran susar.
Seakarik situasaun nune’e ona dalaruma tempu ona ba ita atu tur hodi hanoin ba buat sira nebe’e ita halao ona durante ne’e no oinsa mak ita bele hadiak fali relasaun ita nian ho ema seluk.

5. Ita preokupadu liu ba ema seluk nia hahalok foer hodi bele to susesu

Laiha ema ida iha mundu ne’e perfeitu ka mos liu iha nia vida tomak hodi lori nia to’o susesu, dalaruma ita hasoru ema sira nebe’e ho esforsu tomak atu bele susesu liu husi dalan nebe’e lalos ka foer. Halo ema seluk sai vitima ate hatun nia dignidade rasik.

Sekarik ita kontinua fo ita nia atensaun tomak ba modelu sira hanesan ne’e, entaun ita kontinua moris ho modelu nebe’e hanesan o sira seluk. Presiza ita hatene katak itala bele susesu hanesan ema seluk tamba ita ida-idak ho nia dalan susesu nebe’e la hanesan. Dalan diak liu mak ita fo atensaun tomak ba ita nia esforsu rasik, la presiza halao buat nebe’e hanesan ho ema seluk atu bele susesu, dala ruma ita bele sai diak liu ema seluk se ita fo atensaun tomak ba ita an rasik.

Jika Aku Harus Pergi

Hari demi hari, lembaranku semakin menipis. Jatah usiaku semakin sedikit. Dan semakin banyak yang terjadi padaku. Dari cerita kebahagiaan, kesedihan, kehilangan, kekecewaan, kebanggaan dan berjuta cerita lain.

Entah masih berapa cerita lagi yang harus ku lalui. Namun, tepat di titik dimana aku ingin bangkit dari segala keterpurukanku, selalu saja ada hal yang menarikku kembali jatuh.

Bahkan saat aku menyebutnya sebagai titik nol dan untuk awal yang lebih baik lagi. Emosi dan egoisku mengubahnya menjadi nilai minus.
Sedangkan aku belum melakukan apa-apa dan mungkin tidak bisa melakukan apa-apamu. Aku belum bisa membuat seseorang menangis bahagia karena apa yang sudah aku lakukan. Aku semakin menyia-nyiakan waktuku, sedangkan bilangan usia semakin berlari mendekati titik akhirku.

Beberapa malam ini berakhir dengan airmata dan sejuta penyesalan yang tak berujung. Aku tahu ini semua ada hikmahnya. Tapi aku buta. Aku belum bisa mengejanya.
Aku yakin semua yang terjadi seberat apapun itu berada jauh di bawah batas kemampuanku. Tapi setiap aku letih, aku merasa batas itu terasa tipis.

Dan jika saatnya nanti,
Aku tak akan menyalahkan siapa saja di sekitarku karena membuatku merasa sia-sia. Karena ini tanggung jawabku.
Aku tak akan menyalahkan siapapun jika hari dimana aku dikuburkan, tak ada isak tangis kehilangan. Karena aku sadar aku bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa.

Yang aku bisa saat ini, hanya terus menerus bangkit bila terjatuh. Terus menerus mengoreksi diri. Terus menerus belajar membaca alasan di balik setiap ujian. Terus menerus mengusap airmata yang berlelehan dan menggantinya dengan senyum tawa.

Jika Aku Harus Pergi. Aku ingin setidaknya tanggung jawab yang ku pikul saat ini terselesaikan dengan indah. Surga ataupun neraka ku serahkan padaNYA yang berhak memilihkan.
Aku akan selalu rindu kalian semua.