Konsep
Berpacaran Menurut Alkitab - Berpacaran adalah
konsep masyarakat modern, artinya baru beberapa puluh tahun inilah kita
mengenal konsep tersebut. Di masa lampau hal ini tidak di kenal karena
perkawinan biasanya diatur oleh pihak keluarga atau orang tua kedua belah
pihak. Mengapa demikian?
Karena memang perkawinan bukan cuma masalah pribadi kedua orang yang terlibat
saja, melainkan mempunyai dampak yang luas kepada keluarga dan seluruh
masyarakat sekitarnya. Dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi membawa
suatu perubahan besar bagi generasi muda, mereka belajar bersama dan bergaul
bersama dan menuju kedewasaan bersama. Dalam pergaulan sering kali berkembang
pada hubungan-hubungan yang khusus yang menjurus ke pada persahabatan atau
kepada pacaran.
Arti dari pacaran
Pacaran adalah
dampak dari pergaulan sehingga munculah hubungan (muda-mudi), dua orang yang
tidak sejenis, berdasarkan rasa cinta. Jadi berpacaran adalah suatu proses di
mana seorang laki-laki dan perempuan menjajaki kemungkinan adanya kesepadanan
di antara mereka berdua yang dapat dilanjutkan ke dalam perkawinan. Jadi
apabila kita melihat pengertian di atas, maka berpacaran itu bukanlah sekedar
bersenang-senang melampiaskan nafsu, mengisi kekosongan, tetapi di dalam
berpacaran itu ada suatu keseriusan dan kesungguhan untuk menjalin hubungan
kedua belah pihak, yang menuju kepada suatu pertunangan. Namun pada umumnya
orang salah menginterpretasikan persepsi pacaran yang sesungguhnya yaitu dengan
cara menyalah gunakan praktek berpacaran itu sendiri, sehingga menimbulkan dampak
yang negatif dan tidak jarang kedua belah pihak saling merugikan, misalnya:
- Ganti-ganti pacar
- Saling mendewakan
- Melampiaskan nafsu seksual yang tidak wajar dan belum saatnya di
lakukan pada tahap itu.
Sayangnya banyak orang terburu-buru dalam proses ini, sehingga masih terlalu
muda, sudah ada remaja yang jatuh cinta dan bahkan merasa yakin bahwa orang
yang diidamkan itu pasti merupakan pasangan hidupnya, ada juga pada masa
pacaran orang sudah memanggil papi dan mami. Padahal belum tentu mereka akan menjadi
suami istri. Apa yang terjadi apabila ternyata hubungan tersebut putus! Yang
terjadi adalah kepahitan dan kekecewaan yang sangat mendalam karena seolah-olah
seluruh harapan sudah ditumpahkan kepada sang pacar. Pacaran berbeda dengan
persahabatan, pertunangan, dan pernikahan karena pacaran adalah hubungan dua
orang yang tidak sejenis berdasarkan cinta. Persahabatan berlangsung antara dua
orang atau lebih yang mempunyai hubungan yang lebih baik. Pertunangan adalah
suatu masa yang lebih mendalam dari pada masa berpacaran. Dalam masa ini, suatu
pasangan sudah tiba pada tahap perencanaan yang lebih matang untuk memasuki
kehidupan keluarga. Pernikahan adalah bersatunya dua lawan jenis menjadi satu
daging dan menjadi satu lembaga yaitu Keluarga.
Pacaran menurut Alkitab
Telah dikatakan
dalam Bab I bahwa pacaran itu adalah konsep masyarakat modern, dan secara
tertulis Alkitab tidak pernah menyinggung soal kata pacaran ini, tetapi ada
kisah-kisah dalam Alkitab yang menceritakan kisah hidup seorang pemuda yang begitu
sangat mencintai seorang wanita, namanya Yakub (Kej. 29:18). Kisah ini memang
tidak dicatat secara terperinci bagaimana sikap kedua insan ini, tetapi yang
jelas Yakub mendapatkan Rahel, setelah ia bekerja dengan penuh kesungguhan
selama tujuh tahun tujuh hari, tetapi ia harus menambah selama tujuh tahun
lagi. Ini membutuhkan suatu ketabahan/kesabaran yang luar biasa. Dalam
perjanjian baru mengenai pacaran ini hanya tersirat yaitu bagaimana sikap
seorang Kristen misalnya (Roma 12:20) dimana sistim pacaran dunia tidak dapat
dipakai oleh seorang Kristen ketika ia ada pada masa-masa pacaran. Dipihak lain
Paulus menasihatkan anak didiknya Timotius yang masih muda itu supaya bisa jadi
teladan dari hal percaya, perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian
agar orang tidak melihat atau menganggap rendah Timotius masih muda itu.
Melihat hal-hal diatas, maka mari kita melihat bagaimana cara anak Tuhan
berpacaran menurut konsep Alkitabiah:
Pacaran itu harus didasari Kasih Allah.
Apa tujuan kita
pacaran? Apakah hanya mengisi kekosongan dalam hidup kita, keinginan dalam
hidup kita, keinginan mata atau hal-hal yang menyangkut kepada kepuasan diri
sendiri, dimana yang menjadi pusat perhatian hanya pada diri sendiri. Sehingga
pada masa pacaran timbul istilah bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua, dan
tai gigipun akan rasa coklat...dan sebagainya,....dsb.
Orang dunia mengatakan bahwa asmara itu adalah cinta dan itu sangat dibutuhkan
bagi orang yang berada pada masa pacaran. Menurut kamus, asmara itu mempunyai
dua pengertian yaitu:
Cinta Kasih
Cinta birahi,
dimana seorang anak muda digoda dan tergila-gila pada pasangannya.
Pada dasarnya asmara itu bukan cinta, karena asmara itu naksir/keinginan yang
semua ini berpusat pada diri sendiri. Cinta kasih atau Kasih itu menurut
Alkitab bisa kita baca dalam I Korintus 13:4-7. Cinta yang benar tidak dapat
dijadikan topeng untuk satu maksud dan motivasi tertentu, cinta yang benar
tidak mementingkan diri sendiri, melainkan mengutamakan orang lain. Jadi asmara
itu tidak sama dengan cinta sebab dampak dari asmara itu adalah kebalikan dari
makna cinta yang sebenarnya. Yes. 13:16, 18, ini merupakan ucapan Tuhan kepada
Babil, di mana anak-anak muda tidak perduli lagi terhadap Kudusnya pernikahan
itu. Sehingga dampaknya kebebasan seks, adanya pengguguran kandungan dsb.
Asmara itu hanya berpusat pada diri sendiri dan biasanya diiringi dengan nafsu
(seks) dan itulah adalah dosa. Mat. 5:28, menginginkannya saja sudah berzina.
Simpati itu bisa saja tetapi naksir itu tidak boleh. Jadi pacaran yang benar
harus berorentasi pada kasih akan Allah, dimana kepentingan Allah yang harus
diutamakan atau diprioritaskan dalam hubungan pacaran itu. Kita harus
menunjukkan gaya hidup yang disetujui oleh Allah, bukan berpusat pada diri
sendiri. Kasih akan Allah ini membuat kita mengikuti atuaran main yang Allah
berikan, diantaranya :II Korintus 6:14 ....
Meskipun pada tingkat tubuh dan jiwa pasangan yang tidak seimbang itu dapat
bersatu, namun dalam tingkat roh terjadi kekosongan. Pasangan itu tidak dapat
berdoa bersama-sama dan tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah yang
menggoncangkan hubungan mereka dengan Tuhan. Akibat dari hal ini kepentingan
pribadi akan didahulukan dari kepentingan Allah.
Jika berpacaran yang benar harus didasari kasih akan Allah, maka dalam hal
berpacaran kita harus berani bertanya kepada Tuhan, mengapa demikian? Karena
pacaran itu merupakan suatu persiapan kita masuk pada pertunangan dan
pernikahan. Jika pacaran itu didasari atas diri kita sendiri, itu seringkali
membawa hasil kekecewaan, misalnya ketika kita mengambil sikap memutuskan dia;
syukur bila yang kita putuskan itu tidak kecewa, tetapi apabila ia merasa
kecewa/sakit hati maka itu berarti kita telah melakukan pembunuhan dan bisa
jadi pasangan kita itu akan meninggalkan Tuhan bahkan menjadi murtad. Ini
berarti kita berdosa kepada Tuhan. Percayailah Allah dalam segala hal karena Ia
itu Maha Tahu yang tentunya tahu apa yang menjadi kerinduan /kebutuhan kita
bahkan Ia menjanjikan masa depan yang penuh harapan, lihatlah Yeremia 29:11;
Amsal 23:18. Jadi pacaran yang benar harus di dasari dengan Kasih Allah
sehingga orientasi pergaulan itu hanya ada di dalam tubuh Kristus. Bukan
berdua-berdua, karena akibat dari berdua-duaan itu 'nenek bilang...berbahaya'.
Harus mengikuti standar moral Alkitab.
Apakah dalam
berpacaran dibenarkan perpegangan tangan, berciuman, bermesraan dsb? Telah
dikatakan tadi dalam Roma 12:12 bahwa jangan kita menjadi serupa dengan dunia
atau dengan kata lain jangan berpacaran ala orang dunia. Berpacaran cara
duniawi berbeda dengan berpacaran yang Alkitab/ berpacaran yang bertanggung
jawab kepada Tuhan. Perbedaannya yaitu:
Pacaran duniawi bertujuan mencari pengalaman dan kenikmatan dalam hubungan
cinta dengan pertimbangan : mungkin besok sudah mencari pacar baru lagi.
Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat hubungan pacaran sebagai
kemungkinan titik tolak yang menuju lorong rumah Nikah.
Pacaran duniawi memanfaatkan tubuh pasangannya untuk memuaskan perasaan
seksual, mula-mula pada tingkat ciuman dan pelukan, namun kemudian gampang
menjurus kepada tingkat hubungan seksual. Pacaran yang bertanggung jawab kepada
Tuhan melihat Tubuh pasanganya sebagai rumah kediaman Roh Kudus (I Korintus
3;16) yang dikagumi dan di hargai sebagai ciptaan Allah yang nanti di miliki
dalam rumah nikah, dimana mereka saling menerima satu dengan yang lain dari
tangan Tuhan.
Pacaran duniawi, berorientasi masa kini (sekarang)
Oleh karena itu sering mengakibatkan luka-luka
yang dalam, bila terjadi perpisahan. Pacaran yang bertanggung jawab kepada
Tuhan berorientasi pada masa depan (hari esok). Mereka membatasi segala
hubungan intim jasmani dengan kesadaran bahwa pacaran ini belum mengikat.
Masing-masing harus dapat melepaskan satu dengan yang lainnya (bila terjadi ketidak
cocokan) tanpa saling melukai.
Standar Alkitab tentang pacaran yaitu I Tesalonika 4:3 yaitu Allah berkehendak
supaya kita ada dalam kekudusan. Jangan merusak Bait Allah yang di dalamnya Roh
Allah bertahta. Mat. 5:27-28; Kid. 2:7; 3:5 ;8:4. Efesus 4:27 mengatakan
janganlah beri kesempatan pada iblis sebab dengan kita membuka celah berarti
kita telah memberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah
kehendaki. Dosa seks akan membawa kita perlahan-lahan masuk pada dunia free
seks.
Hubungan badani
(senggama) antara lawan jenis itu tidak akan berlangsung ketika dua pasangan
itu baru mengenal. Ciuman dan pelukan antara seorang pemuda dan pemudi
merupakan kontak fisik untuk mendapatkan seksuil dan kenikmatan. Ada empat
tingkat intensitas hubungan fisik, di mulai dari yang paling lemah sampai yang
paling kuat. Keempat tingkat tersebut ialah:
- Berpegangan tangan.
- Saling memeluk, tetapi tangan masih diluar baju.
- Berciuman
- Saling membelai dengan tangan di dalam baju.
Ransangan seksual yang terus menerus akan menciptakan dorongan biologis
yang terus memuncak. Ketika dorongan seks menggebu-gebu, kedewasaan,
kecerdasan, dan pendirian-pendirian serta iman seringkali tidak berfungsi, atau
tersingkir untuk sementara. Banyak pasangan muda berkata bahwa ciuman itu normal,
karenan ciuman itu adalah kenikmatan pada masa pacaran dan dianggap akan lebih
mengikat tali kasih antara dua belah pihak. Itu adalah pendapat yang sangat
keliru karena Alkitab memberikan penjelasan bahwa dampak dari hubungan itu akan
membuat seorang merasa bersalah bahkan bisa merubah sayang itu menjadi benci.
Contoh : II Samuel
13:1-15. Cerita ini mengisahkan anak-anak Daud yaitu Amnon dan Tamar di mana
Amnon begitu mencintai Tamar, sampai-sampai ia jatuh sakit karena keinginannya
untuk memiliki Tamar. Tetapi pada ayat 15 menceritakan setelah mereka jatuh
pada dosa seks, timbullah suatu kebencian dalam diri Amnon terhadap Tamar, ini
berarti bercumbuan bukan merupakan jaminan akan cinta sejati.
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef. 4:17-21) supaya anak Tuhan
jangan jatuh pada hal berciuman dan lain-lain yang merangsang dalam masa
berpacaran karena itu bertentangan dengan Alkitab. Dengan demikian orang-orang
Kristen harus menghindari percumbuan dalam masa berpacaran, sebab tindakan tersebut
merupakan penyerahan diri kepada seksualitas, membiarkan hawa nafsu berperan,
yang nantinya akan membawa kepada kecemaran dan pelanggaran kehendak Allah.
Lebih jauh lagi pengajaran-pengajaran moral Paulus kepada anak muda Kristen di
mana saja. I Timotius 5:22 bagian akhir "jagalah kemurnian dirimu".
Yesaya 5:20 celakalah yang mengatakan kejahatan itu baik dan kebaikan itu
jahat. Wahyu 18:2-3 keindahan tubuh telah dipakai setan untuk menghancurkan
nilai-nilai iman Kristen. Akhirnya kita akan melihat hubungan seksual muda-mudi
sebelum pernikahan dalam konteks Alkitabiah yaitu:
- Dalam perjanjian Lama Ulangan 22:13-30 Ungkapan ini menunjukkan
betapa tingginya nilai keperawanan, Amsal 7:1327.
- Dalam Perjanjian Baru I Korintus 6:10 Hubungan seksual diluar
pernikahan adalah percabulan. I Korintus 6:13,18,19 Jauhkan dirimu dari
percabulan, tubuh kita bukan untuk percabulan.
Hubungan seksual
diluar nikah bukan hanya masalah pribadi melainkan mengikutsertakan Tuhan, I
Tesalonika 4:3-5,8. Jadi berpacaran itu mempunyai batas-batas tersendiri,
karena pacaran itu tidak sama dengan pertunangan dan perkawinan. Artinya sang
pacar itu bukanlah suami atau isteri sehingga tidak boleh diperlakukan
demikian. Oleh karena itu ada baiknya apabila orang berpacaran pergi
bersama-sama dengan teman-teman atau anggota keluarga yang lain sehingga selalu
ada rem yang mampu mengendalikan semua tingkah laku.
Kesimpulan
Agar
pemuda-pemudi di dalam Kristus tidak berdiri dengan menangis dan menyesal pada
puing-puing ketentuan yang mereka sudah setujui bersama pada awal hubungan
mereka, haruslah mereka berorientasi dalam segala pergaulan mereka kepada ke
empat nasihat Firman Tuhan yaitu:
- Berdoalah senantiasa, I Tes. 5:17;
khususnya pada waktu pacaran Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu,
Ef. 5:20; apakah semua pengalaman pada waktu berpacaran menimbulkan ucapan
syukur?
- Lakukanlah segala sesuatu berdasarkan iman, Roma 14:23 setiap langkah dalam hubungan pacaran mempunyai
dimensi ke atas yaitu tanggung jawab kepada Tuhan.
- Pandanglah tubuhmu dan tubuhnya adalah bait Roh Kudus yang diam di
dalam kamu. Kamu bukanlah milik kamu sendiri,
kamu sudah dibeli! Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu ( I
Korintus 6:19-20)
- Dalam Keagungan-Nya...