Kamis, 21 Agustus 2014

7 Cara Lepas dari Hubungan yang Diwarnai Kekerasan


Cinta katanya berjuta rasanya, tapi bagaimana kalau saking cintanya, seseorang bisa buta dan cemburu berlebihan? Pada akhirnya, ada hal-hal negatif yang dia lakukan. Jika saat ini hubungan kamu diwarnai dengan posesif, cemburu berlebihan dari pasangan, emosi sampai memukul, mengancam, merendahkan dan menyalahkan, serta membuatmu jauh dari lingkungan maka cobalah melepaskan diri dari hubungan tersebut. (Baca juga : Tanda-Tanda Abusive Relationship) Ini caranya :
Sadari dan Segera Ambil Tindakan
Sadarilah bahwa selama ini kamu menjalani sebuah hubungan yang buruk dan tidak sepantasnya kamu lanjutkan. (Baca juga : Akibat Kekerasan Seksual, Seseorang Bisa Jadi Hiperseks) Kamu harus segera bangkit dan melakukan sebuah tindakan agar bisa keluar dari hubungan yang sama sekali tidak bisa membantumu menjadi lebih baik. Mungkin ini hal tersulit yang harus kamu lakukan, karena kamu cinta padanya, tapi nyawamu dan perasaanmu jauh lebih berharga buat dirimu sendiri. Karena itu melekat seumur hidupmu. Kamu juga tidak perlu takut dengan pacar kamu, sayangilah dirimu sendiri.
Kenali Hal-hal yang Merupakan Kekerasan dalam Hubungan
Semakin lama hubungan berjalan, kebiasaan buruk makin terlihat jelas dan bahkan bisa melakukan tindakan kekerasan pada kamu. Sadari hal-hal apa saja yang sudah dia lakukan selama ini, yang telah membuatmu berada di bawah rasa takut dan tidak aman, baik secara verbal maupun tindakan. Seharusnya, pacar merupakan seseorang yang bisa memberikan rasa menghargai dan rasa aman yang tak bisa diberikan orang lain. Kalau yang kamu rasakan ketakutan, untuk apa dipertahankan bukan?
Percayalah, Kamu Tidak Bersalah
Meski pacarmu bilang semuanya gara-gara kamu, percayalah bahwa kamu tidak bersalah. Tindakan / reaksi setiap orang ditentukan oleh orang itu sendiri, bukan orang lain. Kamu tidak harus bertanggung jawab untuk semua yang dilakukan oleh pacar. Sekali lagi, sayangi diri kamu sendiri. Kamu tidak pantas diperlakukan kasar oleh siapapun. Orangtua dan sahabat-sahabatmu yang sayang pun tak akan pernah rela melihat kamu diperlakukan dengan seenaknya oleh siapapun juga.
Dia Takkan Bisa Berubah
Berkali-kali dia berjanji untuk tidak mengulanginya, berkali-kali pula dia akan mengingkarinya. Itu karena dia belum bisa "bertobat" dan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Jika pacaran saja dia sudah memperlakukanmu dengan kasar, bagaimana nanti jika sudah menikah? Kalau memang kamu berniat mempertahankan hubunganmu dengan si dia, ajak dia untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional yang paham mengenai hal ini.
Pahami Situasi yang Kamu Alami
Kamu harus paham betul dengan bobot permasalahan yang sedang kamu hadapi. Bagaimana hal tersebut mempengaruhi masa depan kamu, kepribadian kamu, dan hal-hal lainnya tentang hubungan. Dengan begitu, kamu jadi tahu solusi yang terbaik untuk mengeluarkan kamu dari permasalahan serius ini.
Persiapkan Segala Sesuatunya
Kalau hubunganmu masih baru, mungkin akan lebih mudah untuk putus dengannya, dengan asumsi bahwa ikatan kalian belum begitu kuat. Tapi tidak mudah bagi yang sudah lama menjalani hubungan tersebut. Tetapkan hati untuk tidak kembali pada hubungan yang seperti ini, karena hanya menimbulkan kerugian. Sadari bahwa Anda bisa hidup tanpanya, dan Anda memang bisa hidup tanpanya. Dunia tidak akan runtuh, sekalipun Anda masih cinta padanya.
Buat Rencana ke Depan
Jangan terkubur dalam kesedihan, saatnya kamu mulai lagi. Buatlah rencana ke depan, apa yang harus Anda lakukan selanjutnya. Bagaimana agar kisah lama tak terulang kembali. Lakukan hal-hal positif di dalam hidupmu.

Konsep Berpacaran Menurut Alkitab


Konsep Berpacaran Menurut Alkitab - Berpacaran adalah konsep masyarakat modern, artinya baru beberapa puluh tahun inilah kita mengenal konsep tersebut. Di masa lampau hal ini tidak di kenal karena perkawinan biasanya diatur oleh pihak keluarga atau orang tua kedua belah pihak. Mengapa demikian?

Karena memang perkawinan bukan cuma masalah pribadi kedua orang yang terlibat saja, melainkan mempunyai dampak yang luas kepada keluarga dan seluruh masyarakat sekitarnya. Dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi membawa suatu perubahan besar bagi generasi muda, mereka belajar bersama dan bergaul bersama dan menuju kedewasaan bersama. Dalam pergaulan sering kali berkembang pada hubungan-hubungan yang khusus yang menjurus ke pada persahabatan atau kepada pacaran.

Arti dari pacaran

Pacaran adalah dampak dari pergaulan sehingga munculah hubungan (muda-mudi), dua orang yang tidak sejenis, berdasarkan rasa cinta. Jadi berpacaran adalah suatu proses di mana seorang laki-laki dan perempuan menjajaki kemungkinan adanya kesepadanan di antara mereka berdua yang dapat dilanjutkan ke dalam perkawinan. Jadi apabila kita melihat pengertian di atas, maka berpacaran itu bukanlah sekedar bersenang-senang melampiaskan nafsu, mengisi kekosongan, tetapi di dalam berpacaran itu ada suatu keseriusan dan kesungguhan untuk menjalin hubungan kedua belah pihak, yang menuju kepada suatu pertunangan. Namun pada umumnya orang salah menginterpretasikan persepsi pacaran yang sesungguhnya yaitu dengan cara menyalah gunakan praktek berpacaran itu sendiri, sehingga menimbulkan dampak yang negatif dan tidak jarang kedua belah pihak saling merugikan, misalnya:
  • Ganti-ganti pacar
  • Saling mendewakan
  • Melampiaskan nafsu seksual yang tidak wajar dan belum saatnya di lakukan pada tahap itu.

Sayangnya banyak orang terburu-buru dalam proses ini, sehingga masih terlalu muda, sudah ada remaja yang jatuh cinta dan bahkan merasa yakin bahwa orang yang diidamkan itu pasti merupakan pasangan hidupnya, ada juga pada masa pacaran orang sudah memanggil papi dan mami. Padahal belum tentu mereka akan menjadi suami istri. Apa yang terjadi apabila ternyata hubungan tersebut putus! Yang terjadi adalah kepahitan dan kekecewaan yang sangat mendalam karena seolah-olah seluruh harapan sudah ditumpahkan kepada sang pacar. Pacaran berbeda dengan persahabatan, pertunangan, dan pernikahan karena pacaran adalah hubungan dua orang yang tidak sejenis berdasarkan cinta. Persahabatan berlangsung antara dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan yang lebih baik. Pertunangan adalah suatu masa yang lebih mendalam dari pada masa berpacaran. Dalam masa ini, suatu pasangan sudah tiba pada tahap perencanaan yang lebih matang untuk memasuki kehidupan keluarga. Pernikahan adalah bersatunya dua lawan jenis menjadi satu daging dan menjadi satu lembaga yaitu Keluarga.

Pacaran menurut Alkitab

Telah dikatakan dalam Bab I bahwa pacaran itu adalah konsep masyarakat modern, dan secara tertulis Alkitab tidak pernah menyinggung soal kata pacaran ini, tetapi ada kisah-kisah dalam Alkitab yang menceritakan kisah hidup seorang pemuda yang begitu sangat mencintai seorang wanita, namanya Yakub (Kej. 29:18). Kisah ini memang tidak dicatat secara terperinci bagaimana sikap kedua insan ini, tetapi yang jelas Yakub mendapatkan Rahel, setelah ia bekerja dengan penuh kesungguhan selama tujuh tahun tujuh hari, tetapi ia harus menambah selama tujuh tahun lagi. Ini membutuhkan suatu ketabahan/kesabaran yang luar biasa. Dalam perjanjian baru mengenai pacaran ini hanya tersirat yaitu bagaimana sikap seorang Kristen misalnya (Roma 12:20) dimana sistim pacaran dunia tidak dapat dipakai oleh seorang Kristen ketika ia ada pada masa-masa pacaran. Dipihak lain Paulus menasihatkan anak didiknya Timotius yang masih muda itu supaya bisa jadi teladan dari hal percaya, perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian agar orang tidak melihat atau menganggap rendah Timotius masih muda itu. Melihat hal-hal diatas, maka mari kita melihat bagaimana cara anak Tuhan berpacaran menurut konsep Alkitabiah:

Pacaran itu harus didasari Kasih Allah.

Apa tujuan kita pacaran? Apakah hanya mengisi kekosongan dalam hidup kita, keinginan dalam hidup kita, keinginan mata atau hal-hal yang menyangkut kepada kepuasan diri sendiri, dimana yang menjadi pusat perhatian hanya pada diri sendiri. Sehingga pada masa pacaran timbul istilah bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua, dan tai gigipun akan rasa coklat...dan sebagainya,....dsb.

Orang dunia mengatakan bahwa asmara itu adalah cinta dan itu sangat dibutuhkan bagi orang yang berada pada masa pacaran. Menurut kamus, asmara itu mempunyai dua pengertian yaitu:

Cinta Kasih

Cinta birahi, dimana seorang anak muda digoda dan tergila-gila pada pasangannya.

Pada dasarnya asmara itu bukan cinta, karena asmara itu naksir/keinginan yang semua ini berpusat pada diri sendiri. Cinta kasih atau Kasih itu menurut Alkitab bisa kita baca dalam I Korintus 13:4-7. Cinta yang benar tidak dapat dijadikan topeng untuk satu maksud dan motivasi tertentu, cinta yang benar tidak mementingkan diri sendiri, melainkan mengutamakan orang lain. Jadi asmara itu tidak sama dengan cinta sebab dampak dari asmara itu adalah kebalikan dari makna cinta yang sebenarnya. Yes. 13:16, 18, ini merupakan ucapan Tuhan kepada Babil, di mana anak-anak muda tidak perduli lagi terhadap Kudusnya pernikahan itu. Sehingga dampaknya kebebasan seks, adanya pengguguran kandungan dsb.

Asmara itu hanya berpusat pada diri sendiri dan biasanya diiringi dengan nafsu (seks) dan itulah adalah dosa. Mat. 5:28, menginginkannya saja sudah berzina. Simpati itu bisa saja tetapi naksir itu tidak boleh. Jadi pacaran yang benar harus berorentasi pada kasih akan Allah, dimana kepentingan Allah yang harus diutamakan atau diprioritaskan dalam hubungan pacaran itu. Kita harus menunjukkan gaya hidup yang disetujui oleh Allah, bukan berpusat pada diri sendiri. Kasih akan Allah ini membuat kita mengikuti atuaran main yang Allah berikan, diantaranya :II Korintus 6:14 ....

Meskipun pada tingkat tubuh dan jiwa pasangan yang tidak seimbang itu dapat bersatu, namun dalam tingkat roh terjadi kekosongan. Pasangan itu tidak dapat berdoa bersama-sama dan tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah yang menggoncangkan hubungan mereka dengan Tuhan. Akibat dari hal ini kepentingan pribadi akan didahulukan dari kepentingan Allah.

Jika berpacaran yang benar harus didasari kasih akan Allah, maka dalam hal berpacaran kita harus berani bertanya kepada Tuhan, mengapa demikian? Karena pacaran itu merupakan suatu persiapan kita masuk pada pertunangan dan pernikahan. Jika pacaran itu didasari atas diri kita sendiri, itu seringkali membawa hasil kekecewaan, misalnya ketika kita mengambil sikap memutuskan dia; syukur bila yang kita putuskan itu tidak kecewa, tetapi apabila ia merasa kecewa/sakit hati maka itu berarti kita telah melakukan pembunuhan dan bisa jadi pasangan kita itu akan meninggalkan Tuhan bahkan menjadi murtad. Ini berarti kita berdosa kepada Tuhan. Percayailah Allah dalam segala hal karena Ia itu Maha Tahu yang tentunya tahu apa yang menjadi kerinduan /kebutuhan kita bahkan Ia menjanjikan masa depan yang penuh harapan, lihatlah Yeremia 29:11; Amsal 23:18. Jadi pacaran yang benar harus di dasari dengan Kasih Allah sehingga orientasi pergaulan itu hanya ada di dalam tubuh Kristus. Bukan berdua-berdua, karena akibat dari berdua-duaan itu 'nenek bilang...berbahaya'.

Harus mengikuti standar moral Alkitab.

Apakah dalam berpacaran dibenarkan perpegangan tangan, berciuman, bermesraan dsb? Telah dikatakan tadi dalam Roma 12:12 bahwa jangan kita menjadi serupa dengan dunia atau dengan kata lain jangan berpacaran ala orang dunia. Berpacaran cara duniawi berbeda dengan berpacaran yang Alkitab/ berpacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Perbedaannya yaitu:

Pacaran duniawi bertujuan mencari pengalaman dan kenikmatan dalam hubungan cinta dengan pertimbangan : mungkin besok sudah mencari pacar baru lagi. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat hubungan pacaran sebagai kemungkinan titik tolak yang menuju lorong rumah Nikah.

Pacaran duniawi memanfaatkan tubuh pasangannya untuk memuaskan perasaan seksual, mula-mula pada tingkat ciuman dan pelukan, namun kemudian gampang menjurus kepada tingkat hubungan seksual. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat Tubuh pasanganya sebagai rumah kediaman Roh Kudus (I Korintus 3;16) yang dikagumi dan di hargai sebagai ciptaan Allah yang nanti di miliki dalam rumah nikah, dimana mereka saling menerima satu dengan yang lain dari tangan Tuhan.

Pacaran duniawi, berorientasi masa kini (sekarang)

Oleh karena itu sering mengakibatkan luka-luka yang dalam, bila terjadi perpisahan. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan berorientasi pada masa depan (hari esok). Mereka membatasi segala hubungan intim jasmani dengan kesadaran bahwa pacaran ini belum mengikat. Masing-masing harus dapat melepaskan satu dengan yang lainnya (bila terjadi ketidak cocokan) tanpa saling melukai.

Standar Alkitab tentang pacaran yaitu I Tesalonika 4:3 yaitu Allah berkehendak supaya kita ada dalam kekudusan. Jangan merusak Bait Allah yang di dalamnya Roh Allah bertahta. Mat. 5:27-28; Kid. 2:7; 3:5 ;8:4. Efesus 4:27 mengatakan janganlah beri kesempatan pada iblis sebab dengan kita membuka celah berarti kita telah memberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah kehendaki. Dosa seks akan membawa kita perlahan-lahan masuk pada dunia free seks.
Hubungan badani (senggama) antara lawan jenis itu tidak akan berlangsung ketika dua pasangan itu baru mengenal. Ciuman dan pelukan antara seorang pemuda dan pemudi merupakan kontak fisik untuk mendapatkan seksuil dan kenikmatan. Ada empat tingkat intensitas hubungan fisik, di mulai dari yang paling lemah sampai yang paling kuat. Keempat tingkat tersebut ialah:
  • Berpegangan tangan.
  • Saling memeluk, tetapi tangan masih diluar baju.
  • Berciuman
  • Saling membelai dengan tangan di dalam baju.
Ransangan seksual yang terus menerus akan menciptakan dorongan biologis yang terus memuncak. Ketika dorongan seks menggebu-gebu, kedewasaan, kecerdasan, dan pendirian-pendirian serta iman seringkali tidak berfungsi, atau tersingkir untuk sementara. Banyak pasangan muda berkata bahwa ciuman itu normal, karenan ciuman itu adalah kenikmatan pada masa pacaran dan dianggap akan lebih mengikat tali kasih antara dua belah pihak. Itu adalah pendapat yang sangat keliru karena Alkitab memberikan penjelasan bahwa dampak dari hubungan itu akan membuat seorang merasa bersalah bahkan bisa merubah sayang itu menjadi benci.
Contoh : II Samuel 13:1-15. Cerita ini mengisahkan anak-anak Daud yaitu Amnon dan Tamar di mana Amnon begitu mencintai Tamar, sampai-sampai ia jatuh sakit karena keinginannya untuk memiliki Tamar. Tetapi pada ayat 15 menceritakan setelah mereka jatuh pada dosa seks, timbullah suatu kebencian dalam diri Amnon terhadap Tamar, ini berarti bercumbuan bukan merupakan jaminan akan cinta sejati.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef. 4:17-21) supaya anak Tuhan jangan jatuh pada hal berciuman dan lain-lain yang merangsang dalam masa berpacaran karena itu bertentangan dengan Alkitab. Dengan demikian orang-orang Kristen harus menghindari percumbuan dalam masa berpacaran, sebab tindakan tersebut merupakan penyerahan diri kepada seksualitas, membiarkan hawa nafsu berperan, yang nantinya akan membawa kepada kecemaran dan pelanggaran kehendak Allah. Lebih jauh lagi pengajaran-pengajaran moral Paulus kepada anak muda Kristen di mana saja. I Timotius 5:22 bagian akhir "jagalah kemurnian dirimu". Yesaya 5:20 celakalah yang mengatakan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat. Wahyu 18:2-3 keindahan tubuh telah dipakai setan untuk menghancurkan nilai-nilai iman Kristen. Akhirnya kita akan melihat hubungan seksual muda-mudi sebelum pernikahan dalam konteks Alkitabiah yaitu:
  1. Dalam perjanjian Lama Ulangan 22:13-30 Ungkapan ini menunjukkan betapa tingginya nilai keperawanan, Amsal 7:1327.
  2. Dalam Perjanjian Baru I Korintus 6:10 Hubungan seksual diluar pernikahan adalah percabulan. I Korintus 6:13,18,19 Jauhkan dirimu dari percabulan, tubuh kita bukan untuk percabulan.
Hubungan seksual diluar nikah bukan hanya masalah pribadi melainkan mengikutsertakan Tuhan, I Tesalonika 4:3-5,8. Jadi berpacaran itu mempunyai batas-batas tersendiri, karena pacaran itu tidak sama dengan pertunangan dan perkawinan. Artinya sang pacar itu bukanlah suami atau isteri sehingga tidak boleh diperlakukan demikian. Oleh karena itu ada baiknya apabila orang berpacaran pergi bersama-sama dengan teman-teman atau anggota keluarga yang lain sehingga selalu ada rem yang mampu mengendalikan semua tingkah laku.

Kesimpulan

Agar pemuda-pemudi di dalam Kristus tidak berdiri dengan menangis dan menyesal pada puing-puing ketentuan yang mereka sudah setujui bersama pada awal hubungan mereka, haruslah mereka berorientasi dalam segala pergaulan mereka kepada ke empat nasihat Firman Tuhan yaitu:
  • Berdoalah senantiasa, I Tes. 5:17; khususnya pada waktu pacaran Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu, Ef. 5:20; apakah semua pengalaman pada waktu berpacaran menimbulkan ucapan syukur?
  • Lakukanlah segala sesuatu berdasarkan iman, Roma 14:23 setiap langkah dalam hubungan pacaran mempunyai dimensi ke atas yaitu tanggung jawab kepada Tuhan.
  • Pandanglah tubuhmu dan tubuhnya adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu. Kamu bukanlah milik kamu sendiri, kamu sudah dibeli! Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu ( I Korintus 6:19-20)
  • Dalam Keagungan-Nya...

Selasa, 19 Agustus 2014

Valor Moris

Moris ne’e hanesan circulo nebe’e sempre hadulas haleu ita.
Dalaruma ema ida bele iha okos liu wainhira mundu hadulas an ba kraik.
Ema seluk bele hakletek sae ba leten nafatin la hare’e ba nia tutun.
No ema balun mos dalaruma la iha nia fatin hodi la bok an.
Iha situasaun saida deit no iha nebe’e deit ita horik ba, ita dalaruma hasoru buat balun, perguntas balun, no mos oinsa mak ita valoriza ita nia moris.

Wainhira perguntas ne’e mosu dalaruma lori ita ba iha ita nia konsiensia rasik katak saida mak ita halao ona hodi valoriza ita nia moris?
Medida saida mak ita uza hodi bele hatene katak ita valoriza ona ita nia moris.

Ba hau, atu valorize ita nia moris mak liu husi hadia an.
Bainhira ita hadia ita nia an motiva atu bele sai diak liu.

Ezemplu konkreta ida, ita mane sira sempre preokupadu oituan atu hadia gravata nebe’e karik seidauk los. Ba inan feton sira dalaruma preokupa los ho ssan sira atu uza hodi pinta an karik seidauk diak.
Iha ispelhu oin ita sempre hakarak hadia ita an atu bele sai bonito no bonita, wainhira buat ruma sidauk diak ita buka atu hadia iha ispelhu nia oin.

Entaun atu koalia lolos deit katak, atu valoriza ita nia an ne’e fasil hanesan wainhira ita hamrik iha ispelhu nia oin.
Hare’e ba frakeza nebe’e ita iha hodi buka atu hadia husi loron ba loron.
La presiza tauk atu rekonhese ita nia sala ba ita nia an rasik.
So maromak deit ho ita nia an rasik mak bele hatene sala sira nebe’e iha iha ita an rasik.

Durante ita sei iha konsiensia tomak nebe’e as no forte atu kontinua hadia ita nia an rasik, entaun momentu ida ne’e mak ita bele valoriza ita nia an rasik.

Falhansu nebe’e ita nunka espera

Dala barak buat nebe’e ita planeia nunka mais atu realiza ho diak, dala ruma iha kestaun fundamental balun nebe’e la ses husi planu nebe’e ikus mai falha no labele realiza ho diak.
1. Ita la hatene lolos potensia ita nian
Obriga an atu sai buat nebe’e ita hakarak ne los, tamba husi ne’e iha esforsu nebe’e klaru atu bele realize. Maibe iha ema barak nebe’e la susesu iha area nebe’e sira hakarak.
Labele hanoin katak ita bele susesu hanesan ema seluk.
Ida ne’e mak kestaun importante nebe’e ema barak tenki hanoin, naturalmente ita labele susesu hanesan ema seluk tamba ita nia tempu nebe’e lahanesan ho ema seluk.
Ita labele sukat ema seluk nia susesu ho ita an, karik ne’e iha lalaok moris nebe’e hanesan, ne’e iha tamba ita hetan inspirasaun husi neba no esforsu atu buka hatene buat nebe’e hanesan husi ema seluk ho ita nia an rasik.
Tamba ne’e tansa mak ita preokupadu liu hodi hanoin atu hanesan ho ema seluk, kuandu ita rasik laiha potensia nebe’e hanesan ho ema seluk.

2. Lais liu atu dada an

La susesu iha fatin barak, durante nia la para atu bele to’o nia objetivu, entaun liafuan la susesu ne’e sei la akontese. Buat nebe’e iha mak prosesu atu buka hatene.
Entaun ita ma tenki husu ba ita nia an rasik, karik ita mak dada an sedu ou ita sei iha prosesu atu to’o iha objetivu nebe’e ita hakarak.

3. Iha buat balun nebe’e diak liu hein hela ita
Ita labele lakon konfiansa wainhira ema seluk la valoriza ita nia esforsu ho diak. Ita tenki pasiensia hodi hein oportunidade iha loron ikus.
Pasiensia hanorin mai ita katak oportunidade loron ikus nian sei diak liu, atu lori ita sai husi hanoin negative sira.

4. Foti an, ikus mai halo ita monu
Foti an, kestaun ida ne’e mak sempre halo ita ema monu. Dalaruma la susesu hanesan chamada ida mai ita.
Dalaruma ita konsidera ita nia an rasik katak ita bele halo buat sira ne’e hotu ho diak, no ikus mai ita konsidera ita nia an rasik katak ita diak liu ema seluk. Maibe ita la hatene katak ida ne’e hanesan dalan ida nebe’e lori ita atu lakohi rona ema seluk nia hanoin no ikus mai ita monu iha situasaun ida nebe’e ema dehan foti an no senti katak ita mak diak liu ema seluk.
Se akontese nune’e ona ita labele hakfodak enkuantu ikus mai ema ida-idak hases an husi ita no lakon konfiansa ba ita. No liafuan la susesu ita tenki simu ho laran susar.
Seakarik situasaun nune’e ona dalaruma tempu ona ba ita atu tur hodi hanoin ba buat sira nebe’e ita halao ona durante ne’e no oinsa mak ita bele hadiak fali relasaun ita nian ho ema seluk.

5. Ita preokupadu liu ba ema seluk nia hahalok foer hodi bele to susesu

Laiha ema ida iha mundu ne’e perfeitu ka mos liu iha nia vida tomak hodi lori nia to’o susesu, dalaruma ita hasoru ema sira nebe’e ho esforsu tomak atu bele susesu liu husi dalan nebe’e lalos ka foer. Halo ema seluk sai vitima ate hatun nia dignidade rasik.

Sekarik ita kontinua fo ita nia atensaun tomak ba modelu sira hanesan ne’e, entaun ita kontinua moris ho modelu nebe’e hanesan o sira seluk. Presiza ita hatene katak itala bele susesu hanesan ema seluk tamba ita ida-idak ho nia dalan susesu nebe’e la hanesan. Dalan diak liu mak ita fo atensaun tomak ba ita nia esforsu rasik, la presiza halao buat nebe’e hanesan ho ema seluk atu bele susesu, dala ruma ita bele sai diak liu ema seluk se ita fo atensaun tomak ba ita an rasik.

Jika Aku Harus Pergi

Hari demi hari, lembaranku semakin menipis. Jatah usiaku semakin sedikit. Dan semakin banyak yang terjadi padaku. Dari cerita kebahagiaan, kesedihan, kehilangan, kekecewaan, kebanggaan dan berjuta cerita lain.

Entah masih berapa cerita lagi yang harus ku lalui. Namun, tepat di titik dimana aku ingin bangkit dari segala keterpurukanku, selalu saja ada hal yang menarikku kembali jatuh.

Bahkan saat aku menyebutnya sebagai titik nol dan untuk awal yang lebih baik lagi. Emosi dan egoisku mengubahnya menjadi nilai minus.
Sedangkan aku belum melakukan apa-apa dan mungkin tidak bisa melakukan apa-apamu. Aku belum bisa membuat seseorang menangis bahagia karena apa yang sudah aku lakukan. Aku semakin menyia-nyiakan waktuku, sedangkan bilangan usia semakin berlari mendekati titik akhirku.

Beberapa malam ini berakhir dengan airmata dan sejuta penyesalan yang tak berujung. Aku tahu ini semua ada hikmahnya. Tapi aku buta. Aku belum bisa mengejanya.
Aku yakin semua yang terjadi seberat apapun itu berada jauh di bawah batas kemampuanku. Tapi setiap aku letih, aku merasa batas itu terasa tipis.

Dan jika saatnya nanti,
Aku tak akan menyalahkan siapa saja di sekitarku karena membuatku merasa sia-sia. Karena ini tanggung jawabku.
Aku tak akan menyalahkan siapapun jika hari dimana aku dikuburkan, tak ada isak tangis kehilangan. Karena aku sadar aku bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa.

Yang aku bisa saat ini, hanya terus menerus bangkit bila terjatuh. Terus menerus mengoreksi diri. Terus menerus belajar membaca alasan di balik setiap ujian. Terus menerus mengusap airmata yang berlelehan dan menggantinya dengan senyum tawa.

Jika Aku Harus Pergi. Aku ingin setidaknya tanggung jawab yang ku pikul saat ini terselesaikan dengan indah. Surga ataupun neraka ku serahkan padaNYA yang berhak memilihkan.
Aku akan selalu rindu kalian semua.

Senin, 12 Mei 2014

Makna Kehidupan

Tuhan yang Maha Baik memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk mendapatkannya.
Demikian juga Jika kamu terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kamu tidak akan pernah mulai.
Mulailah sekarang…
mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya.
Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.
Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan, tetapi kehidupan lajang juga memiliki suka-duka.
Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan mata kamu setengah terpejam sesudahnya.
Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya, sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya.
Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah hati seorang wanita.
Begitu juga Persahabatan, persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga.
Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya.
Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya.
Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga kita.
Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi jangan pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain…
tapi menyesal-lah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu.
Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran.
Dialah hiasan dikala kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah.
Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.
Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa melihat kebaikannya
dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak bisa melihat keduanya.
Begitu juga Kebijakan, Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak pada penerapan yang benar, orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal, sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.
Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja, tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta.
Tak seorang pun sempurna.
Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.
Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah.
Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.
Kamu tak bisa mengubah masa lalu….
tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan.
Bila Kamu mengisi hati kamu ….
dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan, Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri.
Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses.  ^_^

Menjadi Sahabat bagi Sesama

Entah apa pun kondisi hidup kita, kita ini membutuhkan sahabat. Manakala kita sedang se­dih, sahabat-sahabat kita datang menghibur. Mereka ikut bersedih hati dengan kita, ikut ber­gembira bersama kita, dan membuat hari-hari kita menjadi lebih ceria. Bersama para sahabat, kita tidak lagi menderita sendiri. Meski kita membutuhkan sahabat di kala sedih, kita pun juga mem­butuhkan sahabat di kala kita bergembira. Apa pun nasib keberuntungan yang kita alami, tetapi jika tidak ada sahabat yang bisa menjadi mitra untuk berbagi keberuntungan itu, maka kegem­biraan yang kita alami sungguh menjadi kurang dapat dirasakan.

Menjadi sahabat

Menurut Thomas Aquinas[1], kita tidak bisa menjadi sahabat satu sama lain, kalau di antara ki­ta tidak ada kesetaraan (equality) dan kesalingan (mutuality) yang benar. Bisa saja kita meng­ingin­kan orang lain menjadi baik, tetapi bukan demi diri kita sen­diri tetapi demi orang lain yang kita cintai itu. Ketika hubungan satu sama lain tidak ada kesaling­an dalam memberikan kebaikan satu sama lain, maka keinginan baik itu tidak bisa bertumbuh menjadi persahabatan. Menjadi sahabat yang sejati berarti menjadi sadar akan harga diri dan cinta orang lain dan mengkomunikasikan afeksi kita satu sama lain. Bisa saja kita merasa saling men­cintai satu sama lain, tetapi jika kita hanya bicara tentang cinta dan tidak ada tindakan nyata, ma­ka kita sama-sama hanya menjadi orang-orang yang berpengharapan baik (well-wishers), dan bukan menjadi sahabat-sahabat (friends).

Kita semua menginginkan persahabatan, dan ingin mengungkapkan cinta kita itu satu sama lain, dalam kata dan dalam tindakan. Kita menjadi sahabat dengan orang lain bukan hanya karena kita merasa mencintai mereka secara batiniah, tetapi juga karena kita mengakui dan meng­ung­kapkan cinta itu kepada mereka. Dengan kata lain, persahabatan adalah suatu habitus yang mem­buat kita ingin menunjukkan cinta kita, bahkan jika kerapkali kita tidak dapat meng­ung­kapkan cinta yang kita inginkan itu. Thomas Aquinas menekankan bahwa kita bisa menjadi saha­bat tidak se­mata-mata karena maksud baik kita tetapi juga karena pemberian diri kita melalui kata dan tindakan kita. 

Tetapi Thomas Aquinas juga mengingatkan bahwa jika kita menggunakan pribadi lain untuk tujuan atau kenikmatan diri kita sendiri, maka kita tidak pernah dapat menjadi sahabat sejati. Itulah mengapa Thomas Aquinas yakin bahwa suatu persahabatan yang sejati mewujud le­bih dalam hal memberikan cinta daripada menerima cinta. Thomas Aquinas melihat dari penga­laman bahwa bayi itu baru dapat menerima cinta, tetapi sahabat bisa kedua-duanya: dapat mem­berikan cinta dan dapat menerima cinta. Persahabatan yang sejati itu merupakan suatu habitus yang baik, tetapi Thomas Aquinas mengingatkan, kita ini sahabat tidak hanya karena maksud ba­ik kita tetapi juga karena pemberian diri kita, baik di dalam kata maupun di dalam tindakan nyata.

Persahabatan sejati dan persahabatan palsu

Menurut Thomas Aquinas, kita dapat memiliki dua jenis persahabatan, yakni: persahabatan palsu (false friendship) dan persahabatan sejati (true friendship). Persahabatan sejati dan lang­geng didasarkan pada kebaikan dan keutamaan di dalam diri masing-masing orang yang menjalin hubungan persahabatan. Kita mencintai sahabat-sahabat demi kepentingan diri mereka. Kita meng­­inginkan mereka baik sama seperti kita menginginkan diri kita sendiri.

Namun, dalam persahabatan yang palsu, didasarkan pada kebaikan yang tidak jelas dan ke­utamaan yang tidak nyata dalam diri masing-masing orang yang bersahabat. Kita mencintai orang lain semata-mata karena apa yang menyenangkan kita dan apa yang bermanfaat bagi kita. Ki­­ta menginginkan “persahabatan” itu karena kita merasakan adanya kekurang-puasan terhadap diri kita sendiri dan adanya kekosongan pada diri kita. Maka, kita berusaha untuk meraih apa yang sungguh baik yang ada di luar diri kita.

Di dalam “persahabatan” yang didasarkan pada kebutuhan dan kesenangan seperti itu, kita mencintai kepentingan (keuntungan) diri kita sendiri dan bukan kepentingan (kesejahteraan atau kebaikan) sahabat kita. Jadi, bukan kita memberikan diri kita demi kebaikan dan kesejahteraan sahabat kita, tetapi kita justru mengambil dari mereka apa yang menyenangkan kita. Mereka men­jadi sarana untuk pemerolehan keuntungan dan kesenangan kita, sehingga dengan cara seperti itu kita sebetulnya “mencintai” mereka sebagai objek yang dapat menyenangkan dan memuaskan ki­ta, seperti layaknya makanan atau pakaian.

Thomas Aquinas tahu bahwa persahabatan yang egoistis seperti itu bukanlah “cinta” sejati. Karena kita menggunakan orang lain sebagai objek untuk kepentingan diri kita sendiri, maka per­sa­habatan seperti itu tidak akan langgeng. Segera sesudah kebutuhan kita terpenuhi, segera pula persahabatan itu pun berakhirlah sudah. Jika sahabat kita itu menghentikan pemberian keuntung­an dan kesenangan kepada kita, maka kita pun akan menghentikan cinta kita kepadanya. Kalau alasan untuk persahabatan itu larut, maka persahabatan itu pun ikut larut juga.

Tetapi, di dalam persahabatan yang sejati didasarkan pada kebaikan dan keutamaan satu sama lain, kita berbagi di dalam cinta Tuhan yang memberikan diri-Nya sendiri, dengan berjuang bersama demi kepentingan dan kebaikan orang lain yang kita cintai. Di dalam cinta yang egoistis kita ditarik kepada hal yang baik di mana orang lain dipakai sebagai sarana untuk mencapai tu­juan kita itu. Sedangkan, persahabatan yang berkeutamaan itu berbeda. Seperti kita mencintai hal yang baik itu demi diri kita sendiri, demikian juga kita mencintai sahabat-sahabat kita itu bukan karena mereka berguna bagi kita tetapi karena mereka itu sungguh-sungguh baik.

Jadi, jika kita memiliki persahabatan yang sejati berdasarkan pada hal yang baik, kita men­cintai di dalam sahabat kita kebaikan dan keutamaan yang ingin kita coba perdalam dan kita ha­yati di dalam hidup kita sendiri. Keserupaan kita di dalam keutamaan bersama dengan sahabat kita itulah yang menjadi satu-satunya penyebab persatuan (communion) kita dengan sahabat-sa­ha­bat kita. Tetapi cinta yang egoistis (selfish-love) yang didasarkan pada kebutuhan dan kese­nangan kita menarik kita kepada mencintai bukan pribadi orang lain itu tetapi mencintai diri kita sendiri. Dan jika diri kita masing-masing adalah egoistis (selfish) maka keserupaan itu (saling me­manfaatkan dan saling mencari kesenangannya sendiri) tidak akan menyatukan kita tetapi justru memisahkan kita. Persahabatan yang sejati pada dirinya sendiri merupakan keutamaan. Dan ke­utamaan sebagai suatu habitus yang baik tidaklah mudah hilang. Itulah mengapa persahabatan yang terbebaskan dari unsur egoisme, yang berdasarkan pada keutamaan, akan berlangsung les­tari atau langgeng.

Thomas Aquinas menegaskan bahwa persahabatan yang didasarkan pada kebutuhan pribadi yang selfish akan selalu berakhir, bahkan pemisahan fisik tidak dapat merusak persahabatan yang didasarkan pada persekutuan dalam memperoleh hal yang baik. Jenis persabahatan seperti ini memberikan inspirasi bagi kita untuk (1) melakukan hal yang baik satu sama lain dan (2) meng­hayati sebuah hidup bersama dalam kegembiraan karena kehadiran satu sama lain tanpa saling mengganggu. Dua kegiatan itu merupakan tindakan persahabatan yang sejati. Meski pemisahan fisik mencegah kita untuk melakukan hal yang baik satu sama lain, kita tetap dapat memperdalam persahabatan melalui kesiap-sediaan dan keinginan untuk membuat ha-hal yang baik itu satu sama lain. Habitus yang baik akan hilang ketika aktivitas itu berhenti. Maka untuk memelihara habitus persabahatan itu kita perlu mengulangi kegiatan-kegiatan yang sama itu satu sama lain.

Cintailah diri sendiri dan orang-orang yang terdekat dengan kita

“Cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri” (Mrk 12:31). Kita bisa bersahabat baik dengan orang lain, kalau pertama-tama kita sendiri lebih dulu bisa bersahabat dengan diri kita sendiri. Kita mampu mencintai orang lain dengan benar kalau kita bisa bersahabat dengan diri kita sen­diri. Kita mampu mencintai orang lain dengan benar kalau kita bisa menjadi sahabat terbaik bagi diri kita sendiri terlebih dahulu. Segala yang baik yang kita inginkan bagi sabahat kita, semua kita inginkan juga untuk kita. Karena Tuhan memerintah kita untuk mencintai satu sama lain seperti kita sendiri mencintai diri kita sendiri, maka karena itu kita juga harus bisa menjadi sabahat yang baik untuk diri kita sendiri. Paradoksnya adalah bahwa mencintai diri sendiri membuat kita mam­pu untuk mencintai orang lain. Ketika kita bisa menjadi sahabat bagi diri kita sendiri, kita dapat menjadi sahabat yang sejati bagi orang lain.

Apa artinya kalau kita bisa menjadi sahabat bagi diri kita sendiri? Ketika kita mencintai diri kita sendiri secara benar, kita menemukan kedamaian di dalam hati kita. Kita mencintai perusa­haan (pribadi) sendiri, kalau di sana kita menemukan Tuhan. Kita dipenuhi dengan kepuasan dan mengalami apa yang baik dianggap baik dalam hidup kita. Ketika kita bisa melihat apa yang ber­nilai di perusahaan (pribadi) kita sendiri, maka kita pun juga bisa melihat apa yang bernilai di per­usahaan (pribadi) lain. Di dalam memberikan diri kita sendiri, kita berkembang menjadi lebih kaya dalam cinta kita setiap hari, dan melihat persahabatan menjadi berkat bagi banyak orang. Cin­ta kita berkembang makin mendalam ketika kita menjadi rela mengurbankan milik kita dan bahkan hidup kita sendiri untuk orang-orang yang kita cintai. Ketika kita tidak mampu menger­jakan segalanya untuk sahabat-sahabat yang kita sukai, kita masih dapat bertumbuh dalam cinta itu. Hati yang murah hati tidak tergantung pada sejauh mana kita memberikan diri, tetapi sejauh mana kita masih ingin memberi. Inilah paradoks dari cinta yang memberikan diri: makin banyak kita memberi, makin banyak kita menerima. Semakin cinta kita ini menjadi kaya, maka cintai kita itu pula akan semakin memperkaya orang lain.

Tetapi, pertanyaannnya: siapa yang harus kita cintai sedemikian mendalam dan mesra itu? Aris­toteles dan juga Thomas Aquinas yakin bahwa yang harus kita cintai sedemikian itu adalah pa­sangan hidup kita (suami/isteri) kita dan anak-anak kita. Karena pasangan kita itu merupakan bagian dari hidup kita, maka kita harus mencintai dia dengan kedalaman cinta persahabatan kita yang erat dan mesra. Karena kita dipersatukan dengan suami/isteri melalui kesatuan fisik yang me­sra dan dengan kedekatan hidup bersama setiap harinya, maka kita dengan suami/isteri kita dike­hendaki oleh Allah untuk memiliki suatu persahabatan yang paling agung (the greatest friend­ship).


[1]  Mary Ann Fatula, 1993, Thomas Aquinas: Preacher and Friend, The Liturgical Press, Collegeville, Minnesota, p. 40-42.